Sepatu di Ambang Pintu
Sepatu itu masih di sana,
lumpur mengering di solnya
seperti peta perjalanan
yang tak pernah selesai.
Aku tidak memindahkannya.
Biarlah pintu tahu
siapa yang belum pulang.
Setiap pagi aku melangkahinya
dan pura-pura lupa
bahwa dulu
aku selalu menunggu
bunyi langkah yang sama.
Kenapa semua yang pergi
meninggalkan sesuatu
yang terlalu berat untuk dibuang?
Dan kenapa pintu
masih membuka sedikit,
seolah tahu
aku belum benar-benar siap
menutupnya?